Kemarin saya terlibat sebuah perdebatan seru dengan seorang anak berusia belasan yang suka nulis “ya” dengan “ea’’ atau dengan fonts yang gede kecil-gede kecil. Jaman sekarang anak-anak muda seperti itu dikategorikan sebagai anak muda alay.
Sebenarnya saya agak sedikit malu menyebut ini sebagai sebuah perdebatan. Karena saya sekali tidak bermaksud untuk mengajukan argument atau membantah argument dia. Tapi begitulah yang kurang lebihnya terjadi.
Entah bagaimana awal mulanya, tapi dia ini marah-marah sama saya gara-gara saya bilang kalo dibandingkan dengan dunia entertainment korea – korea selatan terutama, industri hiburan di Taiwan atau hongkong cenderung lebih santai. Menurut yang saya baca di sebuah majalah terbitan Indonesia yang membahas tentang dunia hiburan di asia termasuk didalamnya jepang, Taiwan dan korea, angka kecenderungan bunuh diri di kalangan para artis tertinggi ada di korea. Entah apa alasannya tapi konon kabarnya tekanan untuk menjadi seorang artis tenar di negeri gingseng itu memang jauh lebih besar.
Persaingan di dunia hiburan korea mungkin sama ketat nya dengan persaingan di negara-negara lain. Tapi menurut beberapa informasi, bahwa artis-artis muda korea memang disiapkan dengan proses yang luar biasa. Mereka melalui babak audisi bahkan sampai digembleng sedemikian rupa untuk menjadi seorang idola.
Tidak jarang mereka harus mengorbankan banyak hal. Banyak artis-artis wanita yang mengaku harus menjalani diet ketat, sehingga proporsi tubuh mereka tetap terjaga. Sesuai dengan image wanita asia yang menjadi idaman banyak lelaki. Langsing, Putih, berkaki jenjang, dengan sikap yang luar biasa centil dan manis.
Bahkan ada gossip kalo beberapa artis wanita muda korea harus menjalani operasi pemanjangan kaki terlebih dahulu selama beberapa lama, sampai kemudian mereka ditampilkan diatas panggung dengan kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya. Lebih baik menurut takaran para produser tentunya.
Menurut saya, proses yang seperti ini memang ada baiknya. Dibanding dengan artis-artis dalam negeri kita, Korea mempunyai bakat-bakat baru yang sama sekali tidak instant. Mereka harus melalui serangkaian pelatihan sebelum di acc untuk tampil di depan public. Tidak hanya sekedar bermodal tampang (yang kebetulan memang luar biasa ganteng dan cantik), tapi mereka dibekali dengan kemampuan untuk menjadi idola, terutama gadis-gadis remaja.
Tapi disisi lain, hal seperti ini menimbulkan tekanan-tekanan yang luar biasa bagi para artis tersebut, yang selalu dituntut untuk tampil secara sempurna di depan banyak orang. Tidak boleh ada cela, tidak boleh ada skandal. Karena skandal bisa berarti akhir dari karir dipanggung hiburan.
Dari yang saya baca , fans-fans idola di asia, terutama korea dan Taiwan memang sedikit lebih ganas dibandingkan dengan negara lain khususnya Indonesia. Sikap mereka dalam mendukung atau sebaliknya terhadap para idolanya sungguh luar biasa. Bayangkan saja, karena rasa sangat memiliki, seseorang bisa melakuka sebuah tindakan yang mungkin bagi orang lain konyol. Begitu juga jika membenci seorang idola, tindakan yang bisa jadi berlebihan pun dilakukan. Dan hal ini lah yang mungkin memberikan tekanan yang cukup berat bagi para artis.
Korea selatan konon masih tabu dengan banyak hal, beberapa diantaranya adalah tentang skandal sex dari orientasi sexual. Untuk mereka-mereka yang harus tampil secara professional dan sempurna, skandal sekecil apapun bisa menjadi ancaman. Dan saking nggak kuatnya, kadang-kadang upaya bunuh diri pun dilakukan. Dan terkadang penyebabnya juga masih misteri
Dan inilah yang saya perdebatkan. Anak muda alay ini tidak terima dengan apa yang saya katakana. Dia bilang saya menjelek-jelekkan artis favoritnya. Dia bilang saya mendiskreditkan artis-artis korea selatan. Dia bilang saya mencemarkan nama baik artis-artis korea.
Nah, begini ini sifat fans di korea sana…termasuk mungkin yang sudah terkena demam korea di Indonesia.
Penerimaan kita terhadap sesuatu memang bervariasi. Saya berusaha menghormati apa yang seseorang persepsikan tentang sesuatu dan saya rasa saya juga berhak mendapatkan hal yang sama. Tapi sikap anak muda itu saya rasa sungguh berlebihan. Bagaimana menurut Anda.
Terus terang akhirnya kemudian saya merasa miris. Apalagi kemudian dia merasa bahwa dirinya adalah warga korea selatan. Padahal jelas-jelas dia ini adalah warga negara Indonesia. Sepertinya “Korean fever” ini sudah masuk ke dalam fase yang paling parah ya?
Jangan salah, saya suka dengan film korea, walaupun yang saya tonton sebatas film-film layar lebarnya, yang mungkin tema nya jauh lebih berani daripada sekedar film drama TV nya yang kebanyakan menjual mimpi yang membuai gadis-gadis muda dan pria-pria muda yang punya kecenderungan untuk menjadi seorang gay. Tapi tidak pernah terpikirkan untuk menjadi ‘completely Korean’
Mungkin ini memang yang disebuh sebagai budaya pop. Korean Fever sekarang sedang menyerang anak-anak muda, bahkan mungkin sampai ibu-ibu. Tapi asal suka saja sih tidak menjadi masalah. Tapi kalo sudah fase yang tidak masuk akal, seharusnya sih kita punya system proteksi pribadi yang menyuruh diri kita untuk tidak bertindak yang nganeh-anehi sampai merasa bahwa kita adalah orang korea, bahkan mengaku pacaran sama Kim Bum segala…